Kamis, 10 Oktober 2013

3 hari bersama commuterline

pikiran kemrungsung..

menunggu 32 yang tak kunjung datang di depan gang. padahal udah sepuluh menit berlalu. makin siang tentunya akan semakin macet di tengah perjalanan. akhirnya mutusin jalan ke depan, jl.i gusti ngurah rai dengan menyusuri gang delima.

keluar di ujung gang delima, terlihat kemacetan yang menggila di sana-sini. motor dan mobil berlomba mencari celah untuk sedikit bergerak maju. hmm.. bisa seperti ini? pikir saya.

"BRAAKK!!"



terdengar sebuah benturan yang sangat kencang, di depan saya. belum terlihat jelas apa yang terjadi, karena mata saya tertutup oleh banyaknya kendaraan. palingan juga tabrakan. semakin melangkah maju, terlihat pengendara motor dengan jaket army memutar balik arah motornya di depan crv baru. berhenti di samping pintu pengemudi crv, dan terlihat memaki sang sopir. kemudian dia bergerak sedikit maju, tidak jauh karena kondisi macet pagi itu. 

dengan membawa pentungan yang tidak begitu besar, sopir crv tadi mendekati pengendara motor. "buk.. buk.." dua kali pentungan mengenai punggung pengendara motor. 
"dia menggebrak mobil saya". ada usaha untuk melawan, namun banyak yang melerai. suara klakson kendaraan menambah gaduh suasana pagi dan suasana hati. 

menerobos kendaraan yang 'parkir' di jalanan, menyeberangi jl.i gusti ngurah rai. terlihat kendaraan polisi sudah berjajar di sana. saya makin bertanya-tanya, ada apa gerangan yang terjadi. sejenak, saya memutuskan untuk naik commuterline (cl), karena sepertinya jauh lebih lancar, walau mungkin akan lebih berjejal bak sarden hehe.

pengalaman naik cl selama diklat minggu sebelumnya, sudah membuat saya lebih tau bagaimana caranya untuk menggunakan moda transportasi masal itu. membeli tiket buaran-gondangdia seharga Rp2.000,- dan uang jaminan pengembalian tiket seharga Rp5.000,-, setelah taping di pintu masuk, menunggu di peron arah jatinegara. 

dua orang ngobrol di depan saya tentang kemacetan pagi ini. keduanya juga 'korban' kemacetan ternyata. maksud saya adalah, mereka sebenarnya setiap hari menggunakan transportasi lain, namun karena kondisi hari ini yang tidak memungkinkan, beralih juga ke cl.

mendengar obrolan mereka, ternyata hari itu ada penutupan jalan untuk keperluan eksekusi lahan yang diduduki oleh orang etnis tertentu di pinggiran jalan i gusti ngurah rai. setau saya, eksekusi sebelumnya gagal. bahkan halte transjakarta di buaran menjadi korban, hangus dibakar semalam.

cl pertama datang, terlihat penuh sesak! saya memutuskan untuk tidak naik cl yang pertama ini. karena berdasarkan pengumuman, cl berikutnya sudah berada di cakung, dua stasiun sebelum stasiun buaran. terlihat seorang bapak paruh baya di hadapan saya, dengan menenteng tas ranselnya memaksa masuk kedalam cl dengan berjalan mundur, padahal pintu cl sudah akan ditutup. saya baru tahu kalau ada ganjalan atas pintu cl, maka pintu akan kembali terbuka. dan ganjalan pagi itu adalah tangan beserta tas ransel bapak paruh baya tersebut. badan sudah di dalam cl, sedang tangan dan tas masih di luar. terjepit untuk beberapa saat, akhirnya pintu itu kembali terbuka. huft..

pulangnya, saya kembali naik cl untuk menghindari kemungkinan masih macetnya jalan yang memperlama saya sampai rumah. hari-hari berikutnya sampai dengan hari ini, saya masih menggunakan cl untuk berangkat dan pulang kerja. namun niat pulang kerja nanti balik menggunakan angkot gagal, karena tadi pagi saat turun di stasiun gondangdia saya lupa untuk meng-uangkan kembali jaminan tiket. hwaa..

saya jadi tau kenapa selalu ada cerita bagi para 'roker' alias rombongan kereta setiap harinya. selalu ada kejadian yang lain dari hari ke hari. dan dua kejadian saat berangkat bekerja di atas, cukuplah menjadi cerita saya hari itu. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar