Rabu, 13 November 2013

ngaku "dosa"

daripada di pendem, ngaku sajalah..

nama saya dalam huruf jawa, barusan belajar dan mengingat lagi.
ada yang masih bisa menulis dengan tulisan jawa?


dahulu kala, beberapa tahun setelah tinggal di jakarta, saya pernah kehilangan banyak sekali kosa kata dalam bahasa jawa, terutama yang kromo inggil. seperti kita tau, dalam tata bahasa jawa, ada tiga tingkatan penggunaannya (cmiiw). ada 'ngoko', 'kromo', dan 'kromo inggil'. ngoko memiliki tingkat bahasa yang paling rendah dimana sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. biasanya digunakan pada tingkat usia yang sama. misal percakapan antara saya dengan teman-teman saya. kromo digunakan bila kita bercakap dengan orang yang sedikit lebih tua. sedang kromo inggil, merupakan tingkatan yang paling tinggi, dimana sering digunakan kepada orang yang lebih tua atau kepada orang yang dihormati.

nah, suatu tahun dalam tahun-tahun dimana saya menghabiskan hidup di jakarta, saya pernah 'kehilangan' kosa kata untuk tingkat bahasa yang paling tinggi, kromo inggil. sampai saya memutuskan untuk menggunakan bahasa indonesia saat menghubungi orang tua. merasa janggal dan aneh siy hehe. lha mau gimana lagi, kadang untuk mengungkapkan satu kata saja, harus memikirkan apa bahasa kromo inggil-nya. kalau cuma sebentar dan engga ngabisin waktu siy engga apa-apa. tapi kalau 'telmi' alias telat mikirnya, keburu ditutup dah telponnya.

pernah juga saat ngobrol dengan pakde yang sekarang udah 'seda' (meninggal dunia). "lha emang saiki wis umur piro?" (lha memang sekarang udah umur berapa?) tanya pakde. "sampun kalih doso sekawan, pakde!" jawab saya tegas haha. "ketok lek wis ilang jowo-ne, ora ono istilah kalih doso sekawan!" (kelihatan kalau sudah hilang bahasa jawa-nya, tidak ada istilah kalih doso sekawan?) hah?? masa toh..

saya menjawab dengan bahasa jawa yang tegas karena pakde pernah ngajar bahasa jawa, kesenian, dan terakhir sebagai kepala sekolah. sempat kaget juga, ko bisa salah? dua puluh dalam bahasa jawa 'kalih doso' sedangkan empat dalam bahasa jawa 'sekawan', kalau dua puluh empat kan berarti = kalih doso sekawan, pikir saya. 

dan ternyata memang salah, yang benar adalah 'sekawan likur'. 'likur' dalam bahasa jawa adalah penyebutan untuk angka di atas dua puluh. dengan menambahkan satu kata angka sebelumnya dan ditambah likur, maka jadinya akan seperti ini : 21, 22, 23... selikur, kalih likur, tigo likur, dst. bahasa ngoko, kromo, dan kromo inggil menggunakan kata itu dalam penyebutan angka di atas dua puluh sampai dua puluh sembilan.

sejak saat itu, saya bertekad untuk mengingat-ingat kembali kosakata-kosakata bahasa ibu saya, bahasa jawa, terutama yang kromo inggil. sedikit demi sedikit, saat ini saya sudah menggunakan bahasa halus tersebut saat menghubungi orang tua dengan telepon. namun untuk status gtalk teman satu ini, yang seringnya pake bahasa jawa yang sangat halus, beberapa kosakata masih membuat saya engga mudeng hehehe.. maklumlah, wong malang vs tiyang solo hehe, bukan langit dan bumi lagi bedanya. haha, ampun mas widhi..

saya tidak mau menghilangkan bahasa itu dalam diri saya. bahasa menunjukkan eksistensi suatu kelompok. bila kelompok tersebut sudah tidak menggunakannya lagi, maka bisa jadi bahasa itu akan punah. saya pengen bahasa jawa tetap eksis seperti bahasa arab atau bahasa inggris, yang tidak punah selama ribuan tahun.

smoga..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar